Literatur Sastra dan Pendidikan Kristen


Literatur Sastra dan Pendidikan Kristen – Pernahkah Anda membaca buku klasik Leo Tolstoy “God Sees the Truth, but Waits”? Cerpen ini mengandung alegori yang dalam, kaya akan alegori, mendalam dalam alegori, kaya latar cerita, tidak terduga. Karya sastra ini adalah salah satu karya sastra utama yang wajib dibaca oleh setiap siswa sekolah menengah dan menengah di Amerika.

Literatur Sastra dan Pendidikan Kristen

 Baca Juga : Memahami Iman Kristen

dbiblio – Tidak hanya itu, beberapa roman serta narasi pendek buatan Leo Tolstoy jadi bagian dari kesusastraan para anak didik disitu. Karya- karya kesusastraan favorit yang lain berupa roman serta jadi pustaka harus murid- murid disitu antara lain: The Scarlet Letter buatan Nathaniel Hawthorne, The Adventures of Huckleberry Finn buatan Mark Twain, Moby Dick buatan Herman Melville, Alice in the wonderland dari Lewis Caroll serta lain serupanya.

Novel harus kesusastraan di tahapan sekolah menengah awal di Amerika Serikat semacam Of Places Literature merupakan kesusastraan yang bercerita mengenai area rumah, sekolah, area warga, serta alam dekat. Sebaliknya novel Themes in Literature merupakan tema- tema berhubungan dengan kepribadian, bukti, kejujuran, ketaatan, kerendah- hatian, rukun, kasih, keelokan, impian serta keteladanan kepribadian yang lain. Karya- karya besar pengarang C. S. Lewis, T. S. Eliot, Nathaniel Hawthorne, Mark Twain, Leo Tolstoy serta pengarang besar yang lain merupakan nama- nama yang bersahabat di kuping mereka dalam kehidupan penataran mereka.

Aku jadi terkenang kala jadi anak didik di dini tahun delapanpuluhan, pada era itu aku telah tidak asing lagi dengan buatan kesusastraan klasik Indonesia semacam Layar Terkembang, Siti Nurbaya, Tidak Putus Dirundung Apes, Hukuman serta Kesusahan, Kesusahan Bawa Nikmat, Salah Ajaran serta lain- lain. Pustaka ini apalagi sama dengan nama- nama penulisnya Sutan suratan Alisyahbana, Marah Rusli, serta lain serupanya. Tetapi saat ini kemana literatur- literatur itu? Kenalkah murid- murid era saat ini dengan karya- karya kesusastraan favorit ini? Kemudian buatan kesusastraan apa yang mereka penghargaan saat ini?

Di semua bumi buatan kesusastraan klasik jadi fokus penting dalam penataran kesusastraan, bukan saja dari perspektif Kristen namun dalam perspektif sekuler. Didalam pemikiran itu ada dimensi high tingkat culture in high tingkat roman, karena lewat buatan kesusastraan itu warga bumi bisa mengenali karakter serta asli diri orang dari suatu bangsa dengan cara lebih tembus pandang. Pembaca bisa meningkatkan diri ke dalam perasaan serta hati orang dari sesuatu warga dengan cara lebih jelas, di dalamnya ada angan- angan, impian, peperangan, cinta, kepercayaan, tanggung jawab, kegagahan, independensi, martabat, perihal yang tidak gampang diperoleh dalam pustaka lain.

Di satu bagian lain derasnya arus data, tumbuhnya pabrik roman“ web”, twitter, alat social facebook, roman teenlit, narasi berkomik seolah menolong terkikisnya karya- karya klasik itu.

Banyaknya opsi kesusastraan pengganti membebaskan murid dari peranan hendak penghargaan buatan seni yang besar dalam baluran narasi bagus nan sarat catatan akhlak. Mereka saat ini lebih banyak membaca roman terkenal, buatan postmodern yang serba relatif serta individual.

Mereka memperoleh data, prinsip serta metafisika hidup dari akses data yang diperoleh dari area serta akses bumi maya. Aku jadi terganggu gimana bangsa ini bisa memenangkan hadiah kesusastraan Ramon Magsasay,

Ternyata hadiah nobel kesusastraan, jika atraksi anak didik era saat ini merupakan drama, akses data informasi, copy paste informasi, style komunikasi“ alay”, bahasa bacaan SMS serta berikutnya? Mampukah murid- murid kita menciptakan buatan kesusastraan bumi apabila bacaannya cuma remeh teme semacam itu, bacaannya bukan buatan klasik yang membangunkan pengetahuan sastranya? Mampukah mereka memperkenalkan buatan kesusastraan tingkatan bumi, apabila mereka cuma menghidupi kesehariannya dengan serentetan perkata tanpa arti dalam interaksi data serta komunikasi diantara mereka?

Dalam perspektif Kristen, bahasa merupakan karunia Tuhan. Allah merupakan Allah yang dengan cara aktif melaporkan diri- Nya lewat ajaran. Allah yang melaporkan kebenaran- Nya lewat bahasa. Presuposisi bukti dibentuk oleh Allah yang berdialog, dengan begitu pemakaian bahasa jadi amat berarti sebab menunjukkan

Sabda membuktikan Allah yang berdialog, Allah yang hidup, Allah yang melaporkan kasih- Nya, perintah- Nya serta berkat- Nya dengan memakai bahasa buat melaporkan firman- Nya.

Bahasa merupakan alat serta perlengkapan untuk Tuhan buat mengantarkan firman- Nya kepada

umat- Nya. Allah memakai bahasa selaku melaporkan kasih- Nya serta kala Tuhan mencampuradukkan bahasa orang satu serupa lain, orang tidak bisa berbicara dengan sesamanya, kultur orang hendak rancu balau serta berhamburan.

“…disitulah dikacaubalaukan TUHAN, bahasa semua alam serta dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke semua alam”( Kej. 11: 9).

Bahasa merupakan alat Allah mengantarkan catatan, perintah, serta berkah pada orang. Di bagian lain bahasa dalam masa postmodernisme dipakai selaku tools buat menghasilkan seluruh sesuatunya relatif serta individual. Dalam gerakan itu, bahasa dipakai selaku“ alat” buat merelatifkan arti yang ada dalam sesuatu tutur, atau meleburkan arti dari sesuatu perkataan.

Dalam dimensi iman
Dalam kesusastraan klasik” God Sees the Truth, But Waits…” buatan Leo Tolstoy diceritakan seseorang terkurung Ivan Dmitrich Aksionov sesungguhnya bisa saja berikan bukti mengenai usaha pelarian Makar Semyonich dari bui Siberia, sesuatu usaha yang gopoh- gapah kedapatan.

Ivan Dmitrich sesungguhnya bisa mengatakan konsep serta usaha Semyonich pada gubernur sipir bui, selaku usaha menanggapi marah dari fitnahan dirinya yang dituduh menewaskan. Pembantaian yang sesungguhnya dicoba Semyonich. Peluang terbuka yang sebesar- besarnya untuk Ivan Dmitrich buat membalaskan marah aksi Semyonich, aksi yang menyebabkan dirinya terkurung sama tua hidup di bui Siberia. Tetapi perihal itu tidak dicoba.

Pemaafan dalam diri Ivan Dmitrich Aksionov kepada Semyonich di akhir narasi menghasilkan perspektif Kristen terpancar dari narasi pendek ini, sesuatu ceruk narasi yang memantulkan kasih Allah hendak bumi, pelunasan kesalahan orang oleh Yesus Kristus pada orang lebih berkesan serta mendalam.

Dalam buatan yang lain dari Leo Tolstoy” How Much Land Does a Man Need?” Diceritakan seseorang tuan tanah dusun yang bernama Pakhom, kehadiran kerabat ipar yang mengajak istri serta keluarga Pakhom buat hidup aman di wilayah perkotaan. Dialog yang kedengaran ini membuat Pakhom termotivasi buat memahami sebesar bisa jadi tanah, hingga kesimpulannya beliau bisa memahami banyak tanah di bermacam tempat.

Terakhir ia bisa memahami beberapa tanah yang lain, kemampuan bersinambung di wilayah kaum Bashkirs, Pakhom memperoleh akad dengan Bashkirs kalau Pakhom dapat memperoleh tanah seluas bisa jadi andaikan beliau sanggup membuat zona yang terkelilingi dengan pacak batasan yang dibuatnya hingga mentari terbenam. Sebab keserakahan Pakhom yang tidak sempat terlampiaskan dalam kemampuan tanah, kesimpulannya beliau keletihan serta tewas bumi.

Untuk Pakhom cuma sepetak tanah yang diperlukan buat penguburan untuk dirinya. Sesuatu ceruk narasi yang memantulkan keserakahan yang bawa musibah, sesuatu narasi yang memiliki angka berkecukupan, kesahajaan serta bukan keserakahan yang tidak sempat terlampiaskan. Sesuatu refleksi kesusastraan yang menancapkan angka berkecukupan, kejujuran, kesahajaan, keceriaan serta menguasai konsep Tuhan dalam hidup orang untuk keabadian.

Kesusastraan Kristen wajib bisa mengatakan aksi yang wajib dicoba seseorang Kristen dalam kehidupannya. Kesusastraan ini sanggup menyuguhkan aplikasi kehidupan dari perspektif Kristen( Christian mind) dalam mengalami bermacam perkara dalam kehidupannya. Christian mind ialah metode berasumsi Kristen selaku keharusan dari amanat Alkitab.

Kesusastraan Kristen amat berarti dalam usaha” integrasi” Sabda Tuhan dalam penataran kesusastraan di kategori kesusastraan, integrasi wajib jadi mutatis mutandis dalam tiap penataran bahasa, kesusastraan, serta kesusastraan dalam perspektif Kristen.

Integrasi Alkitab mengajak kita berasumsi perspektif Kristen mengenai invensi, ajaran hal kesalahan, pelunasan dalam Yesus Kristus serta menguasai konsep Tuhan dalam kehidupan orang.

Tuhan melaksanakan pemberitaan kasihnya lewat kejelasan bahasa, melaporkan bukti lewat bahasa dalam Sabda Tuhan. Tiap orang Kristen membaca, menganalisa, serta menguasai apa yang dipesankan dalam Alkitab. lewat bahasa serta kesusastraan.

Dapat jadi cuma ahli sastra C. S. Lewis( 1898- 1963) saja yang bisa membagikan persembahan literatur- literatur kesusastraan, narasi artikel, novelis serta apologet yang bisa pengaruhi kekristenan pada era keduapuluh dalam format intelektual serta format kepercayaan Kristen. Time magazine dalam cover storynya bertepatan pada 8 September 1947 muat cover mengenai C. S. Lewis yang bertajuk:“ His Heresy: Christianity” sebab Lewis menyuguhkan kekristenan selaku alibi intelektual.

Karya- karya sastranya yang mendunia antara lain The Screwtape Letters, The Chronicles of Narnia, The Ruang Trilogy, serta karya- karya apologetika Kristen antara lain Miracles serta The Dilema of Pain.

Buatan roman menghibur dengan 7 cerita yang banyak diterjemahkan dalam narasi radio, serta banyak difilmkan merupakan The Chronicles of Narnia. Cerita pertamanya The Lion, the Witch and the Wardrobe merupakan cerita antara kebaikan serta kesalahan di analogikan dengan raja hutan atasan Narnia ialah Aslan yang memenangkan pertempuran dengan istri raja penyihir, sebab kehormatan serta kebolehan melewati istri raja penyihir. Pertarungan antara bagus serta kejam, apalagi pengaruhi kebolehan gerombolan Narnia meski Aslan yang tidak nampak, beliau merupakan daulat paling tinggi di negara Narnia.

Kesusastraan Kristen melingkupi buatan puisi- puisi yang memuliakan Tuhan, berpusat pada invensi, pelunasan, kasih Allah serta konsep Allah terlihat karya- karya syair Hellen Keller, Edward Everett Hale, Rupert Brooke, serta Phillips Brooks, tercantum memakai Sabda Tuhan selaku karya- karya syair semacam dalam Mazmur 107: 23- 30 yang menggambarkan fadilat serta buatan Tuhan.

Kesusastraan Kristen pula menggambarkan keelokan, bukti serta daya kasih Allah semacam yang ada dalam Yahudi 11: 1- 6 yang melaporkan ajaran mengenai kepercayaan,

1 Korintus 13 mengenai kasih, Matius 1: 18- 25 mengenai kelahiran

Tuhan Yesus, Lukas 10: 29- 37 mengenai siapakah sesama orang itu?

Literatur Kristen pula melingkupi memoar Kristen yang menyangkutkan ikatan antara kehidupan pengarang serta bacaan yang diperoleh orang itu. Dalam kesusastraan Kristen perihal ini menyuguhkan peluang buat sediakan integrasi antara apa yang terjalin serta yang tercatat.

 Baca Juga : Kebangkitan dan Kenaikan Yesus 

Reaksi dari pertanyaannya, apakah pengarang ialah pengarang Kristen serta gimana kekristenan terpaparkan dalam bacaan yang tercatat? Anak didik hendak menciptakan perihal mengenai keagamaan dari pengarang ataupun suatu pengalaman bersama Tuhan yang dihidupi. Memoar dari Katherine Anne Porter( 1890- 1980) dituliskan dalam narasi pendek“ Noon Wine”( 1937).

Dalam narasi pendek itu Porter tidak akurat melaporkan religiuisitasnya dalam perihal kekristenan. Porter kurang tembus pandang mengantarkan pesannya apabila pembaca kurang memperoleh data mengenai kerangka belakangnya. Namun untuk mahasiswa yang berlatih dari mengenai Porter serta religiusitas Kristennya, kecenderungannya buat menulis” parabel kebatinan bersama kepribadian serta subjek dengan ikon rumor akhlak yang umum,” menghasilkan” Noon Wine” kayaknya mengamanatkan kebatinan umum yang lebih nyata.