Pengadilan memutuskan umat Kristen di Malaysia boleh gunakan kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan


Pengadilan memutuskan umat Kristen di Malaysia boleh gunakan kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan – Setelah polisi menyita buku-buku agama dan CD-nya pada tahun 2008, seorang pria pribumi mengajukan gugatan.

Pengadilan memutuskan umat Kristen di Malaysia boleh gunakan kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan

 Baca Juga : Pentingnya Literatur Kristen Bagi Anak

dbiblio – Polisi menyatakan bahwa umat Kristiani dilarang memiliki materi yang mengandung bahasa Arab sebagaimana ditunjuk oleh Tuhan.

Pemerintah berpendapat bahwa istilah tersebut hanya boleh digunakan oleh umat Islam karena “jika digunakan oleh agama lain, dapat membingungkan atau mengubah mereka.”

Permasalahan ini sudah tingkatkan ketegangan berplatform agama di Malaysia, yang ialah negeri sekuler dengan cara konstitusi.

Ketetapan Majelis hukum Besar Kuala Lumpur, yang dikonfirmasi oleh pengacara permasalahan itu serta dikabarkan oleh bermacam alat, tercantum kantor informasi nasional Bernama, merupakan bagian dari masalah hukum yang diajukan seseorang wanita bernama Jill Ireland.

Ireland, yang berkeyakinan Kristen, merasa hak konstitusionalnya sudah dilanggar.

Pada 2008, daulat mengambil novel agama berbicara serta cakram padat( CD) berbicara Melayu dari Ireland di lapangan terbang Kuala Lumpur, bersumber pada peraturan menteri dalam negara tahun 1986 yang mencegah pengumuman Kristen berbicara Melayu memakai tutur” Allah”.

‘Sudah dipakai selama berabad-abad’

Banyak orang Kristen yang berbicara Melayu berkata tutur itu sudah dipakai di Malaysia sepanjang beratus- ratus tahun, spesialnya di area Malaysia di Pulau Kalimantan. Ireland merupakan seseorang Melanau, golongan etnik masyarakat asli dari negeri bagian Sarawak.

Majelis hukum pada hari Rabu( 10 atau 03) melaporkan kalau konstitusi Malaysia berikan Ireland kesetaraan di hadapan hukum serta ia berkuasa mengimpor pengumuman dalam melaksanakan haknya buat ceria serta melaksanakan agamanya, tutur pengacara Ireland, Annou Xavier, pada kantor informasi Reuters.

” Majelis hukum pula melaporkan kalau peraturan Menteri Dalam Negara tahun 1986… melanggar hukum serta konstitusi,” tutur Xavier.

Ketetapan komplit Majelis hukum Besar tidak langsung ada untuk alat.

Administratur Departemen Dalam Negara Malaysia tidak menanggapi permohonan pendapat dari Reuters.

Majelis hukum paling tinggi Malaysia pada 2015 menyangkal usaha memadankan oleh Gereja Kristen buat memakai” Allah” dalam pengumuman Kristen, sehabis majelis hukum yang lebih kecil menyudahi tutur itu cuma bisa dipakai oleh pemeluk Islam yang ialah kebanyakan di Malaysia.

Pemeluk Kristen melingkupi dekat 9% dari populasi Malaysia, bagi sensus 2010.

Tetapi majelis hukum berkata ketetapan pada hari Rabu tidak bertolak balik dengan ketetapan tahun 2015, sebab itu berhubungan dengan hak konstitusional orang ternyata permasalahan sekeliling publikasi, bagi Xavier.

Baca Juga : Penampakan Yesus Paling Nyata dan Menggemparkan Dunia

Pemerintah Malaysia Banding Putusan Penggunaan Kata ‘Allah’ di Publikasi Kristen

Kuala Lumpur: Penguasa Malaysia pada Senin 15 Maret mengajukan memadankan atas ketetapan majelis hukum buat menghapuskan pantangan sah pemakaian tutur‘ Allah’ buat pengumuman Kristen. Pantangan itu telah berjalan sepanjang puluhan tahun.

Tutur itu sudah lama membagi koyak warga Malaysia yang multietnis. Paling utama dengan keluhkesah pemeluk Kristen kalau usaha buat mengakhiri mereka memakainya menerangi akibat yang berkembang dari Islam konvensional.

Namun sebagian Mukmin mendakwa pemeluk Kristen yang lumayan besar sudah melampaui batasan. Poin itu sudah mengakibatkan ketegangan agama serta mengakibatkan kekerasan sepanjang bertahun- tahun.

Minggu kemudian, Majelis hukum Besar Kuala Lumpur menyudahi kalau pemeluk Kristen bisa memakai‘ Allah’ dalam pengumuman. Majelis hukum membela pada badan minoritas serta mencabut pantangan semenjak 1986.

Seseorang juri menyudahi pantangan itu tidak konstitusional, sebab konstitusi Malaysia menjamin independensi berkeyakinan.

“ Tetapi penguasa mengajukan petisi ke majelis hukum memadankan dengan berkata grupnya‘ tidak puas’ dengan tetapan itu,” bagi akta yang diamati oleh AFP, Selasa 16 Maret 2021.

Pihak berhak sudah lama berargumen kalau memperbolehkan non- Muslim buat memakai‘ Allah’ dapat membuntukan, serta ajak Mukmin buat alih agama.

Permasalahan ini berasal 13 tahun kemudian kala aparat mengambil modul agama dalam bahasa Melayu lokal dari seseorang Kristen di lapangan terbang Kuala Lumpur yang bermuatan tutur‘ Allah’.

Perempuan tersebut-, Jill Ireland Lawrence Bill, seseorang badan golongan warga adat Malaysia,- kemudian melancarkan petisi hukum kepada pelarangan orang Kristen memakai sebutan itu. Malaysia beberapa besar sudah menjauhi bentrokan agama yang terbuka dalam sebagian dasawarsa terakhir, namun ketegangan lalu bertambah.

Pada 2014 suatu gereja diterpa bom gasolin, sedangkan daulat Islam mengambil Alkitab yang memiliki tutur‘ Allah’.

Kurang dari 10 persen dari 32 juta masyarakat Malaysia diperkirakan berkeyakinan Kristen. Beberapa besar dari berawal dari kerangka balik etnik Tionghoa, India, ataupun pribumi, sedangkan 60 persen beretnis Melayu Mukmin.