Sejarah Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia yang Harus Anda Ketahui


Sejarah Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia yang Harus Anda Ketahui – Badan Penerbitan Kristen Gunung Mulia (berganti nama menjadi BPK Gunung Mulia) adalah salah satu penerbit buku Indonesia (khususnya buku Kristen). Namanya diambil dari Menteri Kebudayaan Indonesia Todung Sutan Gunung Mulia dari tahun 1945 hingga 1946.

Sejarah Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia yang Harus Anda Ketahui

 Baca Juga : Pentingnya Literatur Kristen Bagi Anak

Cikal bakal

dbiblio – Kala patriotisme di golongan masyarakat Indonesia mulai bertumbuh saat sebelum tahun 1942, sebagian golongan Kristen Protestan sudah berhasrat buat mensupport kebebasan Indonesia. Kala Jepang menaklukkan penguasa Hindia Belanda serta membekuk nyaris semua masyarakat yang berkebangsaan Belanda, tercantum para abdi gerejawi gereja Protestan. Sebagian orang berjumpa di bui serta merancang upaya- upaya kegiatan serupa di aspek gerejawi. Sehabis Jepang berangkat dari Indonesia serta Indonesia sudah merdeka, bertumbuh pula aksi ekumenikal di golongan gereja- gereja, yang diharapkan hendak berakibat pada aspek publikasi pula. Saat sebelum Jepang tiba, beberapa besar pengumuman dari gereja ataupun badan zending( pekabaran Injil) mengenakan bahasa Belanda, bahasa Malaysia, ataupun bahasa lokal. Sehabis kebebasan Indonesia dialami berartinya publikasi literatur- literatur dalam bahasa Indonesia yang ialah bahasa sah republik Indonesia. Setelah itu pada bulan Oktober tahun 1946, dibentuklah komisi yang bekerja menyiapkan badan pengumuman untuk kesusastraan Kristen Protestan. Aksi inilah yang jadi cikal akan dari berdirinya BPK Gunung Agung tahun 1950.

Awal mula berdiri

BPK Gunung Agung pada awal mulanya berdiri dengan julukan Tubuh Pencetak Kristen( disingkat BPK) pada tahun 1950, walaupun terkini jadi tubuh yang sah pada bertepatan pada 31 Agustus 1951. BPK merancang buat menerbitkan buku- buku serta buklet dalam Bahasa Indonesia. Salah seseorang figur yang jadi motor pada dini berdirinya BPK merupakan Johannes Verkuyl, di sisi banyak orang yang lain. BPK menemukan sokongan dari Indische Kerk( saat ini jadi Gereja Protestan Indonesia), lembaga- lembaga Zending, YMCA, serta tokoh- tokoh Kristen Indonesia, semacam J. Leimena, A. Meter. Tambunan, B. Probowinoto, serta W. J. Rumambi. Pada tahun 1950, Alfred Simanjuntak jadi daya kegiatan penuh durasi dari BPK.

Kala Badan Gereja di Indonesia( DGI, saat ini Perhimpunan Gereja- gereja Indonesia, PGI) berdiri pada bulan Mei 1950, BPK jadi bagian dari DGI. Selaku bagian dari DGI, BPK mempunyai 3 kewajiban penting:

Tingkatkan penciptaan kesusastraan Kristen dalam bahasa Indonesia

Mempublikasikan bacaan- bacaan Kristen

Megedarkan literatur- literatur Kristen

Pimpinan DGI yang awal merupakan Todung Sutan Gunung Agung serta ia mempunyai berperan besar dalam meningkatkan BPK. Sebab seperti itu, pada tahun 1971 namanya digunakan oleh BPK alhasil BPK bertukar julukan jadi Tubuh Pencetak Kristen Gunung Agung. BPK Gunung Agung setelah itu tidak lagi jadi bagian dari DGI melainkan jadi badan yang mandiri.

Perkembangan Selanjutnya

Negeri Indonesia hadapi ketidakstabilan politik sepanjang rentang waktu dini kebebasan alhasil awal mulanya komisi pengumuman yang jadi benih BPK cuma bisa menerbitkan 25 novel per tahun, yang beberapa besar dalam wujud buklet kecil. Kala BPK sudah tercipta pada tahun 1950 serta suasana Indonesia jadi lebih normal, mulai terdapat kenaikan dalam jumlah ataupun mutu novel yang diterbitkan. Hasilnya merupakan diterbitkannya 17 jenis serta serial, sebagian di antara lain merupakan artian kepada Alkitab, novel ajaran serta etika, asal usul gereja, homiletika, dan menerjemahkan kesusastraan yang berawal dari Badan Gereja se- Dunia. Pada awal mulanya beberapa besar novel yang diterbitkan ditulis oleh banyak orang Eropa ataupun ialah buku- buku alih bahasa dari bahasa- bahasa lain. Di dikala semacam itu, J. L. Ch. Abineno merupakan salah seseorang teolog Indonesia yang produktif dalam menulis novel. Setelah itu bersamaan berjalannya durasi, muncullah nama- nama teolog Indonesia yang pula menerbitkan novel ialah O. Notohamidjojo, R. Soedarmo, W. B. Sidjabat, T. B. Simatupang, Eka Darmaputera, serta Andar Ismail. BPK berupaya menjangkau sekolah- sekolah dogma, gereja- gereja, ikatan antar- agama, universitas- universitas serta sekolah- sekolah, dan kelompok- kelompok lain.

Setelah itu dengan memandang kemajuan kondisi Indonesia, BPK Gunung Agung mulai menerbitkan novel yang berhubungan sebagian fokus penting:

Meningkatkan relasi antar-agama

Mengantisipasi kekerasan

Memberi perhatian pada isu jender

Melihat hubungan agama dan ilmu pengetahuan.

Tujuan dari publikasi buku- buku itu merupakan menolong gereja- gereja Indonesia dalam mengatur isu- isu itu dalam kehidupan tiap hari.

 Baca Juga : Setelah Kebangkitan-Nya, Yesus Muncul Pertama-tama kepada Bunda Maria

Menjalin Kemitraan

Di Asia

Salah satu karakter dari BPK Gunung Agung merupakan menjalakan kemitraan dengan bermacam badan yang lain. Sesudah Perang Bumi II, BPK ikut serta di sebagian pertemuan ekumenis di Asia, paling utama di Asia Tenggara, misalnya pertemuan Badan Gereja- gereja Bumi, pertemuan Perhimpunan Gereja- gereja Asia Timur( dibuat di Bangkok bulan Desember 1949), serta Rapat Kristen Asia( dibuat di Parapat, Sumatera Utara tahun 1957).

Di Dunia

Pada tingkatan bumi, BPK ikut serta dalam Christian Literature Fund( CLF), yang pada tahun 1971 berganti julukan jadi Biro for Christian Literature Development. Pada tahun 1975, badan ini bersuatu dengan World Association for Christian Communication( WACC). Pada tahun 1990 WACC melangsungkan serangkaian pertemuan serta pembinaan di Indonesia.

Di Indonesia

Pada tahun 1970, BPK bertugas serupa dengan Kanisius, pencetak Kristen, buat menerbitkan buku- buku bersama. Tidak hanya itu, keduanya pula ikut serta di WACC.

Sebab topik- topik mulanya berhubungan dengan agama lain, kegiatan serupa dengan institusi- institusi yang berlatar balik agama lain mulai dicoba. Pada bertepatan pada 10 April 2002, BPK GM memaraf Memo of Understanding( MOU) dengan Universitas Islam Negara Syarif Hidayatullah. Isi dari memo itu merupakan persetujuan kedua badan buat bertugas serupa menerbitkan buku- buku ataupun artikel- artikel yang berhubungan dengan ikatan antar- agama serta kenaikan derajat orang.

BPK Gunung Agung menerbitkan buku- buku dogma dengan standar akademis buat mendukung pembelajaran dogma di Indonesia. Buku- buku itu ditulis oleh penulis- penulis dari Indonesia ataupun buku- buku alih bahasa dari bahasa lain. Tidak hanya itu, BPK Gunung Agung pula menerbitkan novel rohani efisien, novel biasa, serta novel humaniora.